Sabtu, 26 April 2014

berhentilah

Inikah titik puncak kelelahanmu. Inikah batas kesabaranmu selama ini. Tak ada yang tidak berhenti untuk hanya sekedar istirahat. Robot yang dipergerakan pun ada waktunya untuk berhenti. Pedagang yang berjalan menelusuri kampung per kampung pun berhenti sejenak. Apalagi perasaan ? perasaan bukanlah waktu yang terus berjalan tanpa henti. Bahkan hatimu ? hatimu juga bukan tempat untuk orang-orang yang hanya datang dan pergi sesuka mereka. Hatimu juga butuh istirahat. Perasaanmu juga perlu berhenti dari hal yang menyakiti. 

Perasaanmu memang tak bisa dijamah oleh tanganmu sendiri, tapi saat perasaanmu disakiti bukankah hanya butuh istirahat untuk menyembuhkannya. Apalagi hatimu yang entah bersembunyi dimana. Hatimu memang perlu dijaga, tapi lebih baik hatimu dijaga oleh dirimu sendiri daripada kamu percayakan untuk menjaga orang-orang yang nyatanya hanya datang dan pergi sesuka mereka. 

Tak ada yang harus kamu takutkan dengan kesendirian. Dunia ini penuh dengan tawa dan canda teman-temanmu, yang akan mengisi kesendirianmu. Kesendirian tak berarti kamu diam. Kesendirianmu berarti kamu memiliki kebebasan untuk mencari ataupun memilih menunggu sampai ada seseorang yang benar-benar tepat dan sanggup menjaga hatimu serta perasaanmu. 

Tak ada yang salah jika kamu beristirahat mencintai seseorang. Berhentilah menerima orang-orang yang datang dan pergi sesuka hati mereka. Berhentilah mencintai orang-orang yang ujung-ujungnya menyakiti perasaanmu. Berhentilah berjalan bersama orang-orang yang akan memilih jalan lain dan meninggalkanmu dipersimpangan. Istirahatlah untuk hatimu pulih. Menghilangkan lelahmu yang terus disakiti dan mengembalikan kesabaranmu.

Sepuluh Februari

Ingatkah kamu dengan bulan ini ? bulan yang pernah menjadi cerita kita. Bulan yang menyimpan cinta kita. Ingatkah kamu dengan februari ? februari yang pernah menjadi milik kita. Februari yang menjadi saksi cinta kita. Bulan ini menyimpan cerita sepuluh februari kita. Sepuluh februari yang menjadi awal pertemuan kita selama sebulan lebih kita saling bercakap-cakap lewat pesan. Sepuluh februari dimana percakapan pesan kita berubah menjadi suara yang kita dengar. Sepuluh februari dimana aku bisa melihat bola mata mu yang penuh cinta. sepuluh februari tanggal dimana kamu menyambut kehadiranku dengan senyum manis diraut wajahmu. Tepat di tengah kota ini kita bertemu, memulai cerita sepuluh februari. Sungguh kala itu kebahagiaan yang tak terkira untukku, setelah selama ini aku tersenyum untuk menutupi luka hatiku. Dan saat kita benar-benar saling menatap, perlahan-lahan lukaku sembuh. Perih didadaku berangsur-angsur sembuh. 

Ingatkah kamu dengan sepuluh februari ? aku merindukan hal itu. 

Setahun sudah semua hal itu telah membeku. Cerita sepuluh februari kita telah berubah menjadi kenangan. Sosokmu telah menjadi masalaluku. Senyum manis mu kini hanyalah ingatan ku sebelum tidur. Setahun sudah semua telah berlalu, namun waktu tak mampu menjalankan tugasnya. Waktu hanya berputar tanpa membawa rasa cinta ku untukmu pergi. Padahal waktu telah memisahkan raga kita. Sampai akhirnya kita sama-sama memilih orang lain untuk menghapus semua tentang kita. 

Andai kamu tahu, meski saat itu aku memilih orang lain namun sampai detik ini aku tak benar-benar melupakanmu. Ingatanku belum bersih masih penuh dengan namamu, bayanganmu, senyum manismu, dan sepuluh februari kita. Kini hatiku kosong, hanya ada harapan ku untukmu. Akankah sepuluh februari kita terulang kembali ? akankah hati kita yang sempat terpisah kembali menyatu ? atau sekedar menyatukan ingatan kita untuk bernostalgia bersama. Sepuluh februari masih terasa manis di ingatanku. Masih terlihat indah dihatiku meski sepuluh februari telah menjadi kenangan. 

Sepuluh februari tahun ini telah berlalu. Aku menunggu sepuluh februari tahun-tahun yang akan datang. Akankah kita masih seperti ini, masih menjauh atau kembali mengulang sepuluh februari ? atau bahkan kita akan benar-benar berpisah saat aku tahu tentang statusmu disosial media yang akan meninggalkan kota ini ? andai kamu benar-benar meninggalkan kota ini, semoga waktu menjalankan tugasnya dengan sebaik mungkin untuk melenyapkan cinta dan harapanku untukmu

Melepasmu, Kekasihku...

Sore itu tanpa sengaja aku melihat peristiwa yang indah namun miris dalam hatiku. Melihat seseorang yang masih resmi menjadi kekasihku tertawa lepas bersama wanita lain disampingnya. Tawa yang akhir-akhir ini tak pernah lagi ku rasakan selepas itu. Tersirat kebahagiaan di wajah kekasihku dan wanita itu. Kebahagiaan yang tak lagi bisa ku berikan. Bahkan senja sore itu berbeda. Senja sore itu bersinar indah dengan mega-meganya. Senja yang turut masuk dalam kebahagiaan kekasihku dan wanita itu. 

Semakin aku menatap mereka, semakin berdarah-darah hatiku ini. Semakin terlihat rapuh aku pada dunia. Dunia ini pun ikut bersorak-sorak bahagia melihat kekasihku dan wanita itu. Langitpun tak mau ketinggalan, ia pun terlihat mencerah dengan senja yang indah. Semua larut dalam kebahagiaan yang diciptakan kekasihku dan wanita itu.

Kini aku bukan siapa-siapa lagi untuk kekasihku. Meski tak ada kata putus terucap. Tak ada ucapan selamat tinggal untuk kepergianku. Dan tak ada senyum perpisahan untuk mengakhiri hubungan yang terjalin enam bulan lebih ini. Saat ini langkahku semakin ringan untuk meninggalkan kekasihku karena telah menemukan kebahagiaannya. “Aku pergi kekasihku, untuk kamu bahagia dengan wanita itu. Karena aku tau hatimu tak lagi untukku. Aku tak bisa seperti wanita itu, yang setiap saat selalu disampingmu”.

Tak ada yang salah melepaskan seseorang yang kita sayangi bahagia dengan pilihannya. Meski bukan kamu pilihannya, bukankah melihat orang yang kita sayangi bahagia sudah lebih dari cukup untuk kita turut dalam kebahagiaan. Meski kebahagiaan yang kita rasakan itu bukan kita peran utamanya. Setidaknya orang yang kita sayangi telah menemukan kebahagiaannya. Hingga kita pergi dengan langkah yang ringan meski hati masih berat. Namun ikhlas melepaskan menjadi pilihannya. Semoga dalam langkah kepergianku ini aku menemukan kebahagiaan seperti kekasihku.

Minggu, 06 April 2014

Untuk Apa Hujan dan Pelangi



Untuk apa hujan kembali turun
Jika bumi saja sudah lama mengering
Untuk apa aku kembali jatuhcinta
Jika hatiku sudah lama tak berpenghuni
Kamu lihat rumah tua itu
Sangatlah kotor, berdebu dan rapuh
Hanya sawang yang bisa kamu tatap
Seperti itulah gambaran hatiku...
Untuk apa pelangi hadir dengan warnanya
jika kehadirannya hanya sesaat dan
ketika keindahannya pudar pasti pelangi
akan menghilang tanpa sapaan
Tak perlu hujan, tak butuh pelangi
Bumi sudah terlanjur mengering dan
kehilangan keindahannya
seperti itulah suasana hatiku...

KERINDUANKU...



Apakah waktu mengerti tentang rindu
Apakah hujan juga paham akan kerinduan
Apakah rembulan juga mengenal rindu
Apakah matahari yang menciptakan rindu
Jika bukan mereka...
Lalu siapa yang membuat kerinduan dihatiku
Rinduku pada seseorang yang kini tak lagi ku temui
Tak lagi ku lihat batang hidung dan senyumnya
Tak lagi ku dengar tawa dan kabarnya
Siapa yang membuat kerinduan dihatiku ini
Kalau bukan rasa cinta yang masih tersisa
Kalau bukan sosoknya yang kini menghilang
Aku dan dia masih dibawah langit yang sama
Masih berpijak pada bumi yang sama dan
Masih hidup dalam waktu yang sama
Meski dia yang kini ku rindukan telah menjadi
bagian dari kenanganku
Meskipun dia yang kini kurindukan hanya nyata
dalam masalaluku dan mimpi di masadepanku

Untuk dia yang telah menjadi kenanganku setahun yang lalu :’)

Tak ada judul



Kini hujan yang menemaniku
Saat luka ku masih basah
Aku menunggu pelangi
Agar lukaku sedikit lebih kering
Dengan warnanya yang indah
Meski hanya sesaat...
Di bawah pohon ku berteduh
Agar hatiku tak lagi panas
Melihat kamu yang kini bahagia
Bersama cinta yang kau anggap
itu terbaik...
Biarlah ku tepiskan sendiri lukaku
Menenggelamkan segala lukaku
bersama matahari agar terlihat
indah ketika aku menatap senja