Sore itu tanpa
sengaja aku melihat peristiwa yang indah namun miris dalam hatiku. Melihat seseorang
yang masih resmi menjadi kekasihku tertawa lepas bersama wanita lain
disampingnya. Tawa yang akhir-akhir ini tak pernah lagi ku rasakan selepas itu.
Tersirat kebahagiaan di wajah kekasihku dan wanita itu. Kebahagiaan yang tak
lagi bisa ku berikan. Bahkan senja sore itu berbeda. Senja sore itu bersinar
indah dengan mega-meganya. Senja yang turut masuk dalam kebahagiaan kekasihku
dan wanita itu.
Semakin aku
menatap mereka, semakin berdarah-darah hatiku ini. Semakin terlihat rapuh aku
pada dunia. Dunia ini pun ikut bersorak-sorak bahagia melihat kekasihku dan
wanita itu. Langitpun tak mau ketinggalan, ia pun terlihat mencerah dengan
senja yang indah. Semua larut dalam kebahagiaan yang diciptakan kekasihku dan
wanita itu.
Kini aku bukan
siapa-siapa lagi untuk kekasihku. Meski tak ada kata putus terucap. Tak ada
ucapan selamat tinggal untuk kepergianku. Dan tak ada senyum perpisahan untuk
mengakhiri hubungan yang terjalin enam bulan lebih ini. Saat ini langkahku
semakin ringan untuk meninggalkan kekasihku karena telah menemukan
kebahagiaannya. “Aku pergi kekasihku, untuk kamu bahagia dengan wanita itu. Karena
aku tau hatimu tak lagi untukku. Aku tak bisa seperti wanita itu, yang setiap
saat selalu disampingmu”.
Tak ada yang salah melepaskan seseorang yang kita
sayangi bahagia dengan pilihannya. Meski bukan kamu pilihannya, bukankah
melihat orang yang kita sayangi bahagia sudah lebih dari cukup untuk kita turut
dalam kebahagiaan. Meski kebahagiaan yang kita rasakan itu bukan kita peran
utamanya. Setidaknya orang yang kita sayangi telah menemukan kebahagiaannya. Hingga
kita pergi dengan langkah yang ringan meski hati masih berat. Namun ikhlas
melepaskan menjadi pilihannya. Semoga dalam langkah kepergianku ini aku
menemukan kebahagiaan seperti kekasihku.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar