Jumat, 01 November 2013

Penantian Gelap Seorang Gadis



Ini tulisan tangan dari seorang gadis entah siapa dia, gadis yang selalu menuliskan semua tentang kamu dengan jentikan jemarinya. Namun dari sekian banyaknya tulisan tangannya tak satupun kau baca, tak satupun kau lihat. Dengan rindunya gadis itu kepadamu sejuta air mata tumpah saat jemarinya menceritakan semua tentang kamu, hanya kamu. Namun kerinduan gadis itu akan selalu di simpannya karena dia tahu kamu mungkin sudah nyaman tertawa, becanda ria dengan temannya sendiri. Tak ada lagi ruang untuk dia kembali Tak ada lagi tempat untuk dia tertawa bersama mu, iya hanya tertawa bersamamu. Sebut saja kamu adalah rendy.
 
Aku mungkin perempuan paling tolol yang pernah singgah di hatimu, mungkin kamu malu dengan segala kekurangan ku, mungkin semua insan di dunia berkata tidak untuk Aku Dan Kamu. Mungkin kamu insan terindah hingga Tuhan tak metakdirkan kamu untukku. Mungkin kasih ini takkan sampai pada hatimu. Begitu indahnya kata-kata gadis itu terlihat hatinya begitu sabar, terlihat gadis itu sungguh tulus menyayangi rendy. Namun rendy tak sempat sekalipun untuk menyapa gadis itu dengan manis. Seakan tak ingin temannya tahu akan perasaannya, gadis itu selalu setia menjadi pendengar tentang rendy lewat bibir seorang temannya sendiri. Walau dalam hatinya sangat sakit, karena dulu gadis itu yang senantiasa bercerita tentang rendy yang begitu sederhana dengan bibirnya dihadapan teman-temannya namun kini telah berbeda. 

Kali ini gadis itu tak lagi menulis semua tentang rendy, gadis itu tak lagi menceritakan rendy dengan jemarinya, mungkin gadis itu lelah. Bagaimana tak terluka hati seorang insan melihat seorang yang disayangi kini tertawa bahagia bersama temannya. Mau sampai kapan gadis ini menanti dalam gelapnya penantian ? betapa lelahnya kaki gadis itu berjalan menelusuri kehidupan, sakit pasti mata dan hatinya harus hidup di dalam gelapnya penantian. Penantian yang mungkin takkan lagi berarti untuknya, kini gadis itu hanya membutuhkan uluran tangan untuk berjalan bersama menuju cahaya kehidupan. 

Rambutnya tak seindah dulu, wajahnya tak secantik dulu, nafasnya tak seberarti dulu. Kini sebulan kemudian gadis itu berubah total. Kakinya tak mampu lagi berjalan kini tangannya tak mampu lagi menuliskan semua tentang penantiannya. Bahkan tangannya sendiri saja tak lagi bisa mengusap air matanya sendiri. Gadis itu meminta kepada ibunya perekam suara, dan ibunya memberikan kepada gadis itu. Dengan suara yang lirih gadis itu merekam suaranya, “mungkin saat kamu mendengarkan ini aku mohon jangan menyesal saat kamu menyuruhku pergi. Bahagialah kamu dengan temanku, walaupun aku sakit saat temanku selalu menceritakan semua tentang kamu. Tapi aku tetap bertahan, telinga ku selalu ku paksa mendengarkan agar aku mampu menuliskan semua tentang kamu dengan jemariku. Tapi kini tidak lagi, tangan ku sudah tak mampu menulis tentang kamu dan hatiku mungkin sudah tak lagi mampu menahan sakitnya hidup dalam gelapnya penantian. Andaikan bukan temanku yang kamu sayang saat ini, pastilah penantianku ini memiliki sedikit cahaya untuk kamu melihatnya. Tapi penantianku ini gelap untuk kamu melihatnya, ada dia orang yang kamu sayang adalah teman ku sendiri. Mungkin aku hanya bisa berbicara ini dan aku ingin ucapkan terimakasih sudah menjadi pengisi hati dan penantianku. Selamat tinggal” 

Penantian gelap gadis itu mungkin telah berakhir dengan berakhirnya gadis itu dan menutup matanya hingga tertidur dengan tenang. Gadis itu mungkin cukup bahagia melihat rendy dan temannya sendiri. Seminggu kemudian setelah kepergian gadis itu, baru perekam suara itu diberikan kepada rendy oleh salah satu temannya yang dititipkan oleh ibunya. Dan tulisan-tulisan jemari gadis itu kini tersimpan rapi di kamarnya.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar