Ini tulisan tangan dari seorang gadis
entah siapa dia, gadis yang selalu menuliskan semua tentang kamu dengan
jentikan jemarinya. Namun dari sekian banyaknya tulisan tangannya tak satupun
kau baca, tak satupun kau lihat. Dengan rindunya gadis itu kepadamu sejuta air
mata tumpah saat jemarinya menceritakan semua tentang kamu, hanya kamu. Namun
kerinduan gadis itu akan selalu di simpannya karena dia tahu kamu mungkin sudah
nyaman tertawa, becanda ria dengan temannya sendiri. Tak ada lagi ruang untuk
dia kembali Tak ada lagi tempat untuk dia tertawa bersama mu, iya hanya tertawa
bersamamu. Sebut saja kamu adalah rendy.
Aku
mungkin perempuan paling tolol yang pernah singgah di hatimu, mungkin kamu malu
dengan segala kekurangan ku, mungkin semua insan di dunia berkata tidak untuk
Aku Dan Kamu. Mungkin kamu insan terindah hingga Tuhan tak metakdirkan kamu
untukku. Mungkin kasih ini takkan sampai pada hatimu. Begitu indahnya kata-kata gadis itu
terlihat hatinya begitu sabar, terlihat gadis itu sungguh tulus menyayangi rendy.
Namun rendy tak sempat sekalipun untuk menyapa gadis itu dengan manis. Seakan
tak ingin temannya tahu akan perasaannya, gadis itu selalu setia menjadi
pendengar tentang rendy lewat bibir seorang temannya sendiri. Walau dalam
hatinya sangat sakit, karena dulu gadis itu yang senantiasa bercerita tentang rendy
yang begitu sederhana dengan bibirnya dihadapan teman-temannya namun kini telah
berbeda.
Kali ini gadis itu tak lagi menulis
semua tentang rendy, gadis itu tak lagi menceritakan rendy dengan jemarinya,
mungkin gadis itu lelah. Bagaimana tak terluka hati seorang insan melihat
seorang yang disayangi kini tertawa bahagia bersama temannya. Mau sampai kapan
gadis ini menanti dalam gelapnya penantian ? betapa lelahnya kaki gadis itu
berjalan menelusuri kehidupan, sakit pasti mata dan hatinya harus hidup di dalam
gelapnya penantian. Penantian yang mungkin takkan lagi berarti untuknya, kini
gadis itu hanya membutuhkan uluran tangan untuk berjalan bersama menuju cahaya
kehidupan.
Rambutnya tak seindah dulu, wajahnya
tak secantik dulu, nafasnya tak seberarti dulu. Kini sebulan kemudian gadis itu
berubah total. Kakinya tak mampu lagi berjalan kini tangannya tak mampu lagi
menuliskan semua tentang penantiannya. Bahkan tangannya sendiri saja tak lagi
bisa mengusap air matanya sendiri. Gadis itu meminta kepada ibunya perekam
suara, dan ibunya memberikan kepada gadis itu. Dengan suara yang lirih gadis
itu merekam suaranya, “mungkin saat kamu
mendengarkan ini aku mohon jangan menyesal saat kamu menyuruhku pergi.
Bahagialah kamu dengan temanku, walaupun aku sakit saat temanku selalu
menceritakan semua tentang kamu. Tapi aku tetap bertahan, telinga ku selalu ku
paksa mendengarkan agar aku mampu menuliskan semua tentang kamu dengan
jemariku. Tapi kini tidak lagi, tangan ku sudah tak mampu menulis tentang kamu
dan hatiku mungkin sudah tak lagi mampu menahan sakitnya hidup dalam gelapnya
penantian. Andaikan bukan temanku yang kamu sayang saat ini, pastilah
penantianku ini memiliki sedikit cahaya untuk kamu melihatnya. Tapi penantianku
ini gelap untuk kamu melihatnya, ada dia orang yang kamu sayang adalah teman ku
sendiri. Mungkin aku hanya bisa berbicara ini dan aku ingin ucapkan terimakasih
sudah menjadi pengisi hati dan penantianku. Selamat tinggal”
Penantian gelap gadis itu mungkin telah
berakhir dengan berakhirnya gadis itu dan menutup matanya hingga tertidur
dengan tenang. Gadis itu mungkin cukup bahagia melihat rendy dan temannya
sendiri. Seminggu kemudian setelah kepergian gadis itu, baru perekam suara itu diberikan
kepada rendy oleh salah satu temannya yang dititipkan oleh ibunya. Dan tulisan-tulisan
jemari gadis itu kini tersimpan rapi di kamarnya.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar